Wednesday, September 1, 2010

Tukang Cuci Mobil Menghajikan Ibunya

Cita-cita besar seorang anak kampung yang berada dipelosok kota Lombok, tepatnya di Desa Darek demikian mulia. Dengan keadaan ekonomi keluarganya yang pas-pasan ia ingin membahagiakan kedua orangtuanya. Berbekal ijazah PGA di Mataram ia mengabdikan diri sebagai guru madrasah di kampungnya. Suatu hari ia diajak ke rumah sahabat ayahnya yang keturunan Arab, tiba-tiba ia berkata:” Anak antum ini, Murod akan menemukan kehidupan di Kota Mekkah”. Kaget tidak percaya, bagaimana mungkin bisa ke Mekkah sementara untuk hidup saja sulit.
Namun bagi Murod apa yang didengarnya menjadi obsesi dan doa, sambil dalam hati berucap aamiin, ia teringat firman Allah :”yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu ni'mat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri , dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”(al-Anfal:53)”.
Ya Allah jika aku tidak tinggalkan lombok ini kapan aku merubah nasib keluargaku, Bismillah aku akan hijrah ke Jakarta untuk mengadu peruntungan”, doanya suatu malam saat sujud tersungkur dhoif dihadapan Sang Robbil ’Izzati. Dengan bekal 500 ribu hasil menjual sedikit harta yang ada di rumahnya ia siap berangkat ke Jakarta. Jelang keberangkatannya ayah tercinta mengiring doa ”Murod berangkatlah kamu ke Bumi terbaik yang Allah berikan, mungkin pertemuan kita adalah pertemuan yang terakhir dan kita berjumpa nanti pada hari kiamat, bahagiakan ibu dan saudara-saudarmu kalau ayah sudah tiada” . Tak sanggup Murod melepas pelukan ayahnya dan itulah pelukan terakhirnya untuk ayah tercinta, karena sejak kepergiaannya, ayahnya pergi untuk selama-lamanya menghadap Allah SWT.
Suatu hari tanpa sengaja saat ia menjadi muazin disebuah masjid di Tanah Abang,ternyata suara indahnya menjadi perhatian seorang pengurus dan akhirnya ia diminta untuk menjadi marbot dan muazin tetap di Masjid Asy Syafiun. Pucuk dicinta ulampun tiba, mulai saat itu ia tinggal di masjid tersebut. Setiap malam saat munajatnya ia berbisik dengan Allah, “ Ya Robb di Tanah yang Kau mulyakan disanalah Engkau akan memberikan kehidupan untukku” . Tak terasa linangan airmatanya membasahi tempat sujudnya. Entah kapan doanya akan diijabah, hanya penantian panjang yang tak bertepi.
Untuk makan sehari-hari Murod bekerja sebagai pencuci mobil. Sampai akhirnya karena pintar menulis arab ia diajak seorang ustadz untuk bekerja di Arab sebagai pencatat bensin. Subhanallah menjadi nyata. Tanpa bekal dan modal sesenpun Murod berangkat dengan hati yang haru.
Saat kakinya menjejakkan tanah harom tersungkur sujud ia memandang ka’bah. Sambil deras airmatanya mengalir didepan Multazam ia berdoa ”Ya Allah di Tanah Harom ini Engkau memberikan kemuliaan hidupku dan keluarga, aku ingin melaksanakan amanah ayah, dengan izin-Mu akan aku hajikan ibuku dan semua saudaraku”. Doanya diijabah dengan kerja kerasnya, ibunya bahkan semuanya saudaranya kini sudah berhaji.. Sukses Murod menjadi buah bibir khidmat seorang anak dengan ibunya. Wallahu ’Alam bis Showab. Madinah, 231009

No comments: