Do’a Sebagai Refleksi Kedhoifan
Oleh: Ahmad Shonhaji
Tidak ada ibadah yang lebih utama bagi lidah setelah membaca alquran selain dari zikrullah (mengingat Allah dengan zikir) dan menyampaikan segala kebutuhan melalui doa yang tulus kepada Allah.
Oleh karena itu do’a juga mengandung pengertian meminta, memohon, mengajukan dan mengadukan setiap persoalan dan keinginan hatinya kepada Allah SWT dengan segala kerendahan hati dan penuh pengharapan untuk segera dikabulkan. Maka tanamkan dalam hati bahwa ada hal penting yang wajib terpenuhi bagi orang yang berdoa, yaitu:
Rasa tawadhu dan kerendahan hati, suara yang penuh kelembutan sehingga merasakan dalam setiap rasa munajatnya ingatan yang kuat bahwa Allah Zat yang Maha Perkasa dan Maha Mengetahui segala keinginan dan kehendak Hamba-Nya. Terbayang akan segala kekuasaanNya, maka semestinya hamba yang berdoa dengan penuh kesadaran menghilangkan segala bentuk kesombongan yang melingkupi hawa nafsunya.
Allah SWT berfirman:
“Karena itu ingatlah kepada-Ku, nisaya Aku akan ingat (pula) kepada kalian” (Q.S. Albaqoroh: 152).
Dalam hadits diungkapkan:
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman: “Aku beserta hamba-Ku selagi dia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak-gerak menyebut-Ku” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Berdoa dengan rasa takut, penuh pengharapan dan keyakinan bahwa Allah akan mengabulkan segala permohonannya. Hadirkan dalam setiap munajat bahwa kedekatan Sang Khalik demikian terasa sehingga keyakinan hati dan pengharapan akan dikabulkannya doa semakin terasa.
Allah berfirman:
“ Dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan sungguh-sungguh (berharap akan diterima). Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”. (Q.S. Al A’rof: 56)
Hadits Nabi menjelaskan:
“Mintalah kepada Allah kemurahan-Nya, karena Allah itu suka jika dimintai
(HR. At-Tirmidzy dan Abu Nu’aim)
“Maka jika kalian memohon kepada Allah Azza wa jalla wahai manusia, mohonlah langsung kehadirat-Nya dengan sepenuh keyakinan baha doa kalian akan diperkenankan. Karena Allah tidak memperkenankan doa hamba-Nya yang keluar dari hati yang lalai”
(HR. Ahmad)
Berbaik sangka kepada Allah dengan bahwa atas setiap permohonan yang dipanjatkan. Hal ini menunjukkan bahwa keyakinan dan keragua-raguan dalam berdoa bagi Allah tergantung persangkaan hambanya.
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman (dalam hadits Qudsi): Aku akan mengikutisangkaan-sangkaan hamba-Ku. Dan Aku akan meyertainya ketika ia berdoa kepada-Ku” (HR. Bukhori dan Muslim)
Perintah dan Keutamaan Berdoa
Firman Allah Dalam Alquran:
“Berdoalah engkau kepada-ku maka Aku akan kabulkan do’amu, sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina” (QS. Al-mukminun: 60)
“Dan ketika hamba-hamba-Ku bertanya kepada Engkau tentang Aku, maka katakanlah ya Muhammad bahwa aku dekat, Aku akan kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku .....(QS. Albaqoroh: 186)
Tentang keutamaan berdoa Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:
“Tidak ada sesuatu yang mulia atas Allah Azza wa Jalla selain dari do’a”.
(Diriwayatkan at-Tirmdzy, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Ahmad dan Al-Baghawy)
“Ibadah yang paling utama adalah Doa”. (Diriwayatkan al-Bukhori dalam kitab “Al-Adab Al-Mufrad”).
“Siapa yang tidak mau meminta kepada Allah, maka Allah murka kepadanya”. (Diriwayatkan Al-Bukhory, at-Tirmidzy, Ibnu Majah, Ahmad, al-Hakim dan Al-Baghawy).
Waktu Ijabah dalam Berdoa
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat berdoa, yaitu mencari waktu yang mulia, seperti:
1. Seusai sholat fardhu
“Ditanyakan orang kepada Rosulullah: Ya Rosulullah doa manakah yang sangat didengar oleh Allah? Rosulullah SAW menjawab: yaitu doa di tengah malam dan setelah selesai sholat fardhu”
(HR. At-Tirmidzy).
2. Ketika tengah atau akhir malam
“Rosulullah SAW bersabda: Pada setiap malam, Tuhan kita turun ke Langit dunia, yaitu ketika bersisa sepertiga malam yang akhir. Maka Allah berfirman:”Barangsiapa yang berdo’a kepada-Ku, pasti Ku-perkenankan, dan siapa yang memohon kepada-Ku pasti akan Ku-beri, dan siapa yang memohon ampunan kepada-Ku pasti akan Ku-ampuni” (HR. Bukhori, Muslim, Tirmizi)
3. Saat sujud
“Saat seorang hamba sangat dekat dengan Tuhannya adalah ketika ia sedang sujud, maka banyak-banyaklah berdoa pada saat itu” (HR. Muslim)
“....minta tolonglah untuk dirimu dengan memperbanyak sujud” (HR. Muslim)
4. Diwaktu lapang dan tenang
“Tidak ada sesuatu yang paling mulia di sisi Allah Azza wa Jalla daripada doa ketika dalam keadaan lapang” (HR. Hakim).
“Barangsiapa yang menginginkan doanya diijabah oleh Allah SWT ketika dalam keadaan kesulitan, maka hendaklah ia memperbanyak doa di waktu lapang” (HR. Tirmidzy dan Hakim).
5. Saat berperang fisabilillah
6. Saat khatam alquran
7. Ketika turun hujan lebat.
8. Saat berbuka puasa
9. Diantara azan dan iqomat
10. Duduk diantara dua khutbah.
Adab Berdoa
1. Hendaklah dalam keadaan bersuci
2. Menghadapkan wajah ke arah qiblat
3. Mengangkat kedua tangan dengan penuh kesungguhan
4. Mengusapkan wajah seusai berdoa
5. Mengucapkan doa dengan suara lirih dan penuh ketawadhuan dan kesungguhan.
6. Membersihkan hati dengan berzikir kepada Alah
7. Bertaubat dan mohon ampun atas segala dosa
8. Setiap doa hendaknya diawali dengn Hamdalah dan Shalawat
“Setiap doa terhalang (untuk sampai kepada Allah SWT) sehingga dibacanya shalawat atas Nabi dan keluarga Muhammad SAW” (HR. Tirmidzy)
9. Berdoa sesuai dengan keinginan dan kebutuhan yang tidak berlebihan dan melampaui batas
10. Meminta kebaikan dalam doanya.
Ketika Doa Tidak diijabah
Setiap kita yang berdoa selalu berharap bahwa doanya ingin dikabulkan, terlepas apakah itu sesuai dengan situasi dan kondisi kita atau tidak. Seringkali ketika doa dijabah kita merasakan kebahagiaan yang luarbiasa serasa kedekatan kita dengan Allah SWT. Namun kadangkala ketika permohonan yang dipanjatkan belum juga dikabulkan seringkali bisikan syetan menggelincirkan hati manusia untuk berpaling dari Allah.
Firman Allah dalam alquran:
“Boleh saja kamu membenci sesuatu hal,padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”(Q.S. An-Nisa: 19).
Atau bisa juga doa yang kita panjatkan sengaja diperlambat pengabulannya oleh Allah SWT sesuai dengan dengan kehendak dan pertimbangan-Nya
“Tidak ada seorang muslim yang menghadapkan wajahnya kepada Allah untuk berdoa, kecuali Allah memberikannya yang kadang-kadang dipercepat dan kadang-kadang diperlambat”
(HR. Ahmad dan Hakim).
“Tidak ada seorang muslimpun yang berdoa dengan suatu doa, yang doanya tidak berkaitan dengan dosa atau berkaitan dengan usaha untuk memutusan silaturahmi, melainkan Allah akan memberinya dengan salah satu dari tiga kemungkinan: Segera dipenuhinya doa tersebut; disimpannya sebagai simpanan pahala di akherat; atau dihindarkan dari kecelakaan ataupun kejelekan yang sebanding. Mereka para sahabat bertanya: Bagaimana kalau kami memperbanyak doa? Rosul menjawab:”Allah akan memperbanya lagi” (HR. Ahmad, Bazzar, Abu Ya’la dan Hakim)
Penutup
Doa yang dipanjatkan seorang hamba kepada Sang Khalik dengan penuh kerendahan hati dan keyakinan merupakan wujud kepasrahan dan dan refleksi kedhoifan. Lebih lagi akan nampak terasa di depan mata kita ketika jutaan manusia dengan niat, pakaian, aktivitas ibadah yang sama dalam pelaksanaan ibadah haji semua tangan tengadah dengan linangan airmata, hati tertuju hanya kepada Allah. Hampir disetiap tempat mustajab di Mekkah dan Madinah tiada seorangpun yang meminta dan berdoa kecuali ia tanggalkan keinginan dan nafsu duniawi mengharap keberkahan hidup dan keridhoan agar mendapatkan pahala HAJI MABRUR. Amin.
Thursday, October 30, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment