Hubbul Masakin
Oleh: Ahmad Shonhaji
Rosulullah SAW mengajarkan doa dengan tiga permohonan yang menarik : “Allahumma ahyinii miskiinan wa amitnii miskiinan wahsyurnii yaumal qiyaamati ma’a zumrotil masaakin” artinya : “Ya Allah ya Tuhanku Hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, dan wafatkan aku pula dalam keadaan miskin serta giringlah aku nanti pada hari kiamat bersama rombongan orang-orang miskin”. Meski sebagian sahabat memberi interpretasi terhadap kata “miskin” dalam doa tersebut dengan ikhlas dan tawadhu.
Subhanallah keberpihakan Rosulullah SAW untuk selalu berbagi kepada kaum lemah bukan hanya direfleksikan dengan sikap dan perbuatan semata namun diiringi dengan ketulusan permohonan kepada Allah untuk selalu dekat bersama orang yang lemah dan menderita. Bukankah Rosulullah selalu mengingatkan kepada para sahabatnya, “Aku adalah bapaknya anak yatim dan sahabat bagi orag miskin”.
Dalam riwayat yang lain Rosulullah SAW bersabda:” Carilah aku diantara para Dhuafa dan orang miskin (diucapkan sampai 3x), karena sesungguh engkau akan ditolong dan diberikan kemudahan rezeki dengan sebab doa kaum Dhuafa karena kepedulian dan keberpihakanmu”.
Bayangkan oleh kita keceriaan wajah anak yatim dan senyum kebahagiaan kaum Dhuafa saat kelembutan dan kepedulian menyentuh hati dan jiwa mereka . Tidakkah kita juga merasakan ketulusan doa dan pancaran keikhlasan yang terlontar dari bibir yang selalu berharap adanya orang-orang yang memperhatikan dan mencintai mereka dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
Seorang yahudi yang buta dan miskin di Madinah, setiap saat selalu mencaci dan memaki Rosulullah, namun sentuhan tangan Rosulullah yang selalu memberinya makan setiap hari dengan penuh keikhlasan, cinta yang tulus dan kelembutan menghadirkan hidayah Allah di hatinya.
Ketika seorang mengangkat kedua tangannya saat takbir diawal sholat, itulah tanda kdhoifan dan penyerahan seorang hamba kepada sang Kholiq. Hablum minallah dan kontak komunikasi vertikal terjalin. Namun kesempurnaan ibadah bukan hanya indahnya komunikasi vertical namun pola keseimbangan horizontal dengan lingkungannya menjadi kunci kebahagiaan. Karena itu “salam” dengan gerakan menengok kekanan dan kekiri menjadi tanda kesempurnaan sholat dan cermin kesempurnaan iman untuk mengajarkan empati, peduli dan selalu berbagi.
Tentunya semangat berbagi dan peduli yang diajarkan Rosulullah memberikan ibroh tentang prinsip keseimbangan dalam hidup. Ramadhan dengan kewajiban berpuasa membentuk karakter mu’minin untuk dapat merasakan penderitaan orang miskin. Indahnya kewajiban berzakat memberi pelajaran kedermawanan untuk menepis kesenjangan sosial dan sikap individualis. Bahkan kerekatan silaturahmi yang terjalin dan nuansa saling memaafkan ketika Syawal merupakan pancaran kebersamaan dan ukhuwah yang tidak lagi melihat manusia dari status sosial, harta, tahta dan kedudukan.
Kini keni’matan Ramadhan dan predikat muttaqin serta indahnya kebersamaan di bulan Syawal menjadi recharge iman untuk selalu menjaga sustainibilitas kepedulian dan tetap konsisten untuk saling berbagi.
Wallahu a’lam bis showab.171008
Thursday, October 30, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment