Thursday, October 30, 2008

Kejernihan Hati
Oleh: Ahmad Shonhaji

Waktu terus bergilir tahun demi tahun mengisi hari diantara kita. Kini, Syawal datang menjemput. Tentu bagi setiap hamba-Nya Allah memberi dua pilihan dalam hidup, mengambil langkah fujur dan maksiat atau menempuh jalan taqwa dan kebenaran; memilih dosa atau meraih pahala; beroleh syurga atau neraka Penekanan Alquran pada S.91:8 semestinya menjadi ibroh buat kaum mu’min, apalagi konteks ayatnya sangat imlpementatif ketika lafadz “fujur” lebih didahulukan dari lafadz “taqwa”. Hal ini juga berkaitan dengan dominasi sikap dan prilaku manusia, hawa nafsukah yang menjerat umurnya atau fondasi iman dan amal sholehkah yang menyinari setiap langkah hidupnya.
Bahkan seringkali manusia terjebak dengan pilihannya sendiri, misalnya hasil korupsi yang dipergunakan seorang anak untuk membahagiakan orangtuanya, pameran kebajikan melalui sedekah yang ditunaikan, kekhusyuan ibadahnya bercampur dengan sifat riya dan ingin dipuji, ditengah aktivitas membantu orang lain terselip satu bisikan syetan supaya ia dikatakan orang baik, Rasa hasud dan dengki yang dibingkai dengan silaturahim. Sungguh kenyataan ini masih menjadi prototipe yang ada di masyarakat, mencampurkan antara yang hak dan yang batil. Bukankah Peringatan Allah sangat tegas dalam Alquran surat Albaqoroh: 42: “janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu sedang kamu mengetahuinya.”
Untuk menyehatkan amaliyah umatnya dan menghilangkan kerikil dosa yang terus menjerat setiap ibadah dan langkah kehidupan manusia, Rosulullah memberikan solusi dengan melakukan imunisasi dan sanitasi “hati” karena muara setiap amaliyah manusia adalah dari segumpal darah, ia bernama hati. Bila baik hatinya maka baiklah semua amalnya, dan sebaliknya bila rusak hatinya maka rusaklah seluruh amalnya (muttafaq ‘alaih)
Ketauladanan para sahabat bercermin pada kebeningan dan kejernihan hati Rosulullah. Kepiawaiannya dalam memvisualisasikan ketulusan hati dengan aktualisasi kepada umatnya melahirkan tebaran rahmah dan cinta diantara mereka. Rasa benci berubah menjadi sayang dan sayang bertambah menjadi cinta dan taat. Subhanallah. Maka bila di dalam segala aktivitas kita, baik di rumah, kantor atau ketika melakukan traksaksi bisnis, berkomunkasi dengan orang lain, menegakkan hukum dan keadilan, berbagi peduli dengan sesama berbingkai kebersihan hati, ketulusan dan komitmen meraih ridho Allah semestinya tidak terjadi lagi kecurangan, eksploitasi, manipulasi, sifat iri dan dengki. Belajar dari hati kita dapat mengambil petikan ibroh dalam hidup ini.

1. Merekatkan ukhuwah.
Bila kita belajar dari Sinergi 2 kekuatan masyarakat mekkah dan madinah dalam membangun paradaban masyarakat madani, yang dilakukan oleh Rosulullah pertama kali adalah saling mempersaudarakan, merekatkan ukhuwah dengan landasan iman dan saling menyatukan hati antara kaum Anshor dan Muhajirin. Perbedaan kebiasaan, adat istiadat, kultur bahkan pendapat yang terjadi diantara mereka justru menjadi kekuatan untuk saling memahami dan mengenal satu dengan lainnya. Proses akulturasi yang dibangun dengan hati yang bersih dan satu tujuan yang sama akan melahirkan hasil karya cipta yang jauh lebih sempurna dan manfaat yang lebih terasa dibanding mendiskusikan terus setiap sisi perbedaan yang malah berujung dengan dengki dan permusuhan. “Tidak sempurna iman salah seorang diantara kalian sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri”.


2. Menghilangkan permusuhan
Ketika kepala suku masyarakat Mekkah saling berselisih dan bersitegang pada persoalan siapa yang paling berhak memindahkan hajar aswad ke tempat semula setelah terjadi banjir besar yang menimpa ka’bah., masing-masing kepala suku menampilkan ketokohan dan keunggulannya. Akibatnya yang terjadi bukan penyelesaian akhir tapi menjadi awal permusuhan diantara mereka. Sampai pada akhirnya Rosulullah mempersatukan dengan cara yang santun. Diambil sorbannya, diletakkan hajar aswad di atasnya dan dan setiap kepala suku memegang ujung kain itu, mereka angkat beban itu bersama tanpa ada yang dirugikan. Sungguh Rosulullah mendamaikan mereka dengan hatinya. Dapatkah kita bayangkan bila bukan kejernihan dan ketulusan hati yang berperan maka permusuhan dan pertumpahan darah yang terjadi sementara substansi masalahnya tidak akan pernah selesai.

3. Meluruskan Niat
Berawal dari niat dalam hati segala aktivitas ibadah dimulai, sepanjang proses ibadah berlangsung sampai akhir maka semestinya hati tak boleh bergeming dan niat tak boleh berubah, maka bila terjadi rusaklah ibadah kita. Ketika Usamah seorang panglima muda diperintahkan Rosulullah memimpin pasukan kaum muslimin, Rosulullah mengingatkan dengan pesan bijak, bila berangkat dengan niat pujian maka pulanglah bila berjuang karena Allah syurga menjadi jaminan. Demikian pula ketika Khalid bin Walid mendapatkan surat pergantian posisi Panglima atas dirinya dari Kholifah Umar bin Khattab ia terima dengan hati bijak sambil berkata; “Aku berjuang karena Allah bukan karena Umar”.

4. Mengharap Ridho Allah
Ketika Siti Aisyah Menyaksikan kaki Rosulullah sampai membengkak karena ibadah dengan rasa cintanya ia bertanya: Wahai Rosulullah Bukankah Allah telah menjamin engkau masuk Syurga kenapa harus berpayah seperti ini? Rosulullah menjawab dengan hati yang bijak:”Tidak bolehkah aku ibadah karena rasa syukurku kepada-Nya dan berharap ridho-Nya”. Dengan hati bersih dan kelembutannya Rosulullah SAW selalu mengajarkan para sahabatnya dengan sikap dan prilaku.

Keberkahan dalam hidup, ketenangan jiwa dan kedamaian bathin dimulai dari hati yang bersih yang senantiasa dibentengi dengan ruh ilahiyah agar tidak terjerumus ke dalam jurang kehinaan karena memperturutkan hawa nafsu.
Wallahu a’lam bis Shawab.
10112006.

No comments: